.: HiSMaG :.

Iqra Garda Nusantara

 

Judul provokatif itu terinspirasi dari kisah perjalanan tiga anak di “sekolah” altermatif Qoryah Thoyibah di bawah asuan Bahrudin. Diceritakan di sana bahwa ada tiga anak didiknya yang sedang melakukan penelitian akhir dengan diam-diam memutuskan mengikuti Ujian Nasional. Ketiga anak itu mendapatkan nilai cukup bagus di ujian nasional. Selain itu, dalam wkatu bersamaan ketiga anak yang bernama ina Afidatussofa, Naylul Izza, dan Kana itu juga menghasilkan karya tulis yang disebut disertasi dengan judul “Lebih Asyik Tanpa UN.” Mereka melakukan wawancara dengan orang-orang terkait penyelanggara UN dan menakjubkan karena hasil ulisan itu sudah dipublikasikan oleh LKiS Yogyakarta (Baca Suara Merdeka 18/3/2008). Bagi kita, kebaranian itu adalah melampau usia mereka yang masih remaja fase awal (SMP).

 

Ketika saya menuliskan judul di atas juga sedikit paradok bagi beberapa teman sebab saya sendiri telah mengenyam pendidikan formal dari SD, SMP, SMU, Perguruan Tinggi sampai dua kali S2 di dalam dan di luar negeri. Seolah membuktikan bahwa sekolah adalah candu (Baca buku Roem Topatimasang, sekolah itu candu, 1998). Sekolah adalah reproduksi kelas yang mampu dan mempunyai kesempatan sementara yang tidak mampu (secara finansial) harus mengakhiri sekolah semenjak usia dini. Tetapi di sini saya mencoba untuk merefleksikan diri perjalanan di sekolah-sekolah bertembok besar dan berpagar tinggi itu. Lalu, saya ingin mengatakan bahwa ternyata saya lebih banyak belajar dan beraktualisasi di luar sekolah. Saya juga ingin mengatakan ternyata lebih asik di luar pagar sekolah dan ujungnya adalah bahwa lebih bahagia tanpa sekolah. Bagaimana ‘thesis’ ini dapat dpertanggung jawabkan. Berikut adalah refleksi singkat saya. Semoga ada manfaat.

 Image

Ketika Sekolah Dasar

Saya, mungkin, adalah orang yang paling tidak bahagia duduk berlama-lama di kelas pada saat sekolah dasar. Banyak hal yang tidak saya suka mulai dari Bapak/Ibu guru yang diskriminatif terhadap siswa, anak-anak kelas menengah kampung yang selalu berlomba membawa perlengkapan sekolah, tas bagus, sepatu, dan sebagainya. Mereka adalah jagoan kelas baik secara akademik maupun secara fisik. Sementara saya, tentu saya anak petani biasa dan memilih bergaul di luar pagar sekolah dengan binatang ternak, sapi, petani di sawah, pencari ikan di sungai, dan orang-orang yang tinggal di gubuk di tegalan. Karena ini pengalaman pribadi, saya tidak bermaksud mengeneralisir tetapi hendak mengatakan bahwa sekolah itu sama sekali bukan tempat yang membahagiakan. Sama sekali tidak. Pramuka yang mengajarkan lagu disini senang di sana senang hanyalah omong kosong sebab situasi kami tidak sama dengan anak-anak yang pulang pergi sekolah dalam keadaan kenyang. 

 

SMP dan SMU

Keadaan tidak pernah berubah. Pada tahun-tahun 1995-2002 bagi saya, sekolah tetap sebagai ajang berkumpul dan bersenang-senang para siswa yang mempunyai kelas sosial mapan. Mereka mempunyai habitus yang sudah melekat sebagai kelompok ‘terdidik’, terhormat dan secara ekonomi berkecukupan. Wajar saja selalu, para bintang kelas merepresentasikan mereka dan bukan dari kami yang hanya jagoan berenang, berlari, memanjat pohon, bersiul keras, karena kami juga tidak pernah punya buku selain buku tulis. Kejadian ini sama sejak SD tetapi waktu sekolah SMA keadaan lebih baik tetapi tetap saja kalah start dengan anak-anak kota yang sudah biasa memakan buku (kutu buku). Akhirnya saya lebih memilih egiatan di luar sekolah baik yang sama sekali gak ada hubunganya dengan sekolah maupun kegiatan exstra sekolah. Saya aktif di sana dan sampai terpilihlah saya sebagai ketua umum OSis di SMU N 2 Lamongan.

 

Dengan ‘jabatan’ ini saya selalu punya alasan untuk tidak mengikuti pelajaran di sekolah. Kelas 2 masuk kelas IPA adalah sesuatu yang mewah tetapi kering bagi saya sehingga saya ingin memilih kelas IPS. Karena nilai semakin memburuk nilai di kelas IPA saya pun pindah ke kelas IPS. Bapak Ibu guru BK/BP tidak senang dengan keputusan saya. Konon kelas IPA lebih bagus dan lebih ‘prestisius.’ Mohon maaf, jika ada bapak ibu guru saya yang membaca karena saya mengatakan itu hanya  ‘hipotesis’ kalau tidak dibilang omong kosong. Saya kira anak-anak IPA itu hanya disiapkan menjadi pekerja dengan gaji tinggi dan status sosial baik. Tidak ada hubungannya dengan kemaslahatan orang dan kepedulian terhadap orang yang kurang beruntung. Karena itu, saya menolak hipotesis tanpa bukti itu. Walau demikian, saya belajar beroganisasi melalui OSIS bukan melalui pelajaran di dalam kelas yang pengap.

 

Parahnya, sekolah ini tidak menjadikanku gemar membaca! hanya gemar mengerjakan PR karena terpaksa.

 

Kuliah di UGM

Tidak banyak anak kampung, anak udik, anak buruh tani bisa masuk UGM dengan gampang. Perjuangan sangat berat dan menantang.Akhirnya saya masuk UGM melalui tes UM UGM dengan jumlah sumbangan 0 rupiah. Karena nol srupiah saya harus diinvestigasi oleh panitia seleksi masuk UGM. Kalau gak salah waktu itu wakil rektor UGM yang berceramah bahwa kita semua sudah untung masuk UGM maka disarankan jangan menyumbang dengan NOL RUPIAH. Karena UGM dan negara sudah mensubsidi banyak katanya. Seingat saya konon setiap semester kuliah di UGM tahun 2003 itu menghabiskan subsidi negara 9 sampai 15 juta per mahasiswa. Saya tidak pernah mikir khutbah tersebut saya hanya ingin masuk UGM kalau ditolak saya tidak bunuh diri, dunia juga akan baik-baik saja tanpa saya menjadi mahasiswa UGM.

 

Para aktifis BEM dan organisasi lain siap-siap menadvokasi kita semua. Saya senang sekali banyak tawaran bantuan advokasi. Saya pun tetap masih PD pada hari daftar ulang tahun tersebut. Hanya jujur, tetap ada harap-harap cemas apalagi saya sudah tidak kuliah selama satu tahun mengembara di Pare Kediri. Saya sudah siap-siap segala dokumen keterangan dari RT/RW/Kepala desa/camat bahwa saya tidak mampu emmbayar SPP apalagi sumbangan puluhan juta. Akhinta saya di ACC masuk UGM, beberapa teman dan orang tua banyak berlinang air mata di samping kana kiri karena gak bisa membuktikan bahwa mereka miskin. Awal masuk kampus, yang menyedihkan. Bagaimana saya menemukan bahagaia dan asik sekolah? belum ketemu jawabannya.

 

Tetapi, saya terus berharap bisa keluar dari kampus dengan pengetahuan yang layak. Tetapi entahlah, merasa tidak mendapatkan apa-apa setelah  4 tahun kuliah. Bacaan-bacaan yang membebaskanku seperti sekolah candu, pendidikan populer, gagasan Paulo Friere dalam beberapa judul buku sepeti politik pendidikan, pendidikan orang tertindas, memprovokasi saya untuk keluar dari penjarah kampus/sekolah UGM. Hampir saya tidak lulus. Karena orang tua memimipikan saya wisuda dan ingin mereka datang, maka saya pun menuruti dengan menyelesaikan skripsi semampu dan sebisa, plus sesantai mungkin. Akhirnya, selesai.

 

Habis kuliah di UGM, tidak jelas mau ngapain. Saya mengalami disorientasi dan tidak punyai pemikiran lebih maju selain ikut beberapa aktifitas LSM (sejak masih mahasiswa) dan ormas terbesar di Yogyakarta. Mencari pekerjaans seadanya  untuk bisa survive di perantauan dan bisa membantu orang tua. Ijazah pun belum sempat saya pakai saya sudah nekat mengikuti program S2 Ilmu Politik di UGM. Intinya, saya tidak bahagia di kampus tetapi masih penasaran dapat apa kalau sudah s2? akhirnya hampir S2 berakhir saya pun masih tidak punya pekerjaan artinya tidak laku mungkin. Atau karena pasar tidak mendekatiku karena ilmuku IPS bukan IPA. Karena ini, saya berjanji tidak menemui guru BK/BP SMA saya karena saya menganggur walau masih mahasiswa. Saya pun lebih asik pada kegiatan sosial yang non profit. Kadang mbambung kemana-mana tidak jelas tetapi saya belajar dari lingkungan. Dalam batasan tertentu saya setuju pada perkataan bahwa semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah. Saya pun bahagia dengan pembelaan filosofis tersebut. 

 

kesimpulan masih sama. Sama-sama parahnya, yaitu kampus sebesar UGM ini tidak menjadikanku gemar membaca! hanya gemar mengerjakan tugas karena terpaksa. Kegemaran membacaku bukan karena tugas kampus tetapi karena saya harus berbagi pengetahuan dengan teman, sesama, di luar kampus.

 

Coba-coba Rasa sekolah di Luar Negeri

Tidak ada sprit untuk lulus S2 pada saat itu karena saya tahu banyak S2 di negeri ini. Banyak mereka mendapatkan pekerjaan yang tidak ada korelasinya dengan disiplin ilmu di universitas yang digeluti. Di tengah kegaluan ini saya ketemu dengan beberapa orang yang bicara bahwa lulusan sekolah luar negeri itu sangat laku di dalam negeri. Mungkin maksudnya punya privilage tertentu. Saya pun penasaran dibuatnya. Dalam hati kecil, mungkin saya harus mencoba. Dengan bekal ijazah S1 dan sertifikat cumlaude serta aktifitas sosial lainnya saya sangat percaya diri untuk melangkah merebut beasiswa. Proses seleksi ini pun membuat orang tidak bahagia karena harus berharap dan cemas. Manusiawi saya kira. Saya pun begitu walau tidak teramat perih. Proses mencari sekola, memang menyusahkan. Kita lihat saja sekarang. Bagaimana orang tua mau membayar joki, melakukan apa saja, untuk agar anaknya diterima di kampus/sekola dasar bahkan.

 

Aku pun berhasil merebut beasiswa IFP yang konon untuk orang-orang marginal/terpinggirkan secara ekonomi dan politik. Pada saat itu wawancara pun harus menggadaikan rahasia nurani saya di mana saya harus menceritakan kehidupan keluarga dan dengans egela pahir getir di dalamnya untuk meyakinkan bahwa saya ini anak tertindas baik psikologi maupun ekonomi sejak dalam kandungan. Dramatis memang, tetapi itu dalam rangkah merebut dan memasuki dunia baru: sekolah di Amrika boy, yang konon prestisius dan bahkan dikatakan oleh beberapa tim seleksi, akan mengubah hidup saya. Tapi bagi saya itu semangat, itu doa yang akan menolang saya bisa survive minimal saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri.

 

Saya pun, di penghujung tahun ini akan mendapatkan ijazah luar negeri yang pertama (insyallah ada yang kedua, karena masih penasaran belum tahu hebatnya apa lulusan luar negeri). Saya pun masih pada kesimpulan bahwa sekolah itu mengungkung, menindas dan sama sekali tidak membagaiakan walau sekolah itu lokasinya di surga sekalipun. Mungkin juga karena itu, Nabi Adam dan Hawa tidak dibuatkan sekolah di surga sebab takut kebebasannya akan hilang. Ketika bebas, mereka makan buah apel, dan di usir ke bumi. Di sanalah kedua manusia itu belajar. Belajar sebagai manusia yang sebenarnya bukan ahli surga yang hanya leyeh-leyeh, santai saja. Nabi Adam itu mengajari saya sekolah alam dan harus bisa survive di bumi yang keras, seram, berkabut, salju, dan berapi. Karena saya menusia keturunan Adam, maka saya ingin mengatakan bahwa sekolah itu tidak asik. Saya ingin mengatakan bahwa lebih bahagia tanpa sekolah.

 

Ditulis sehari setelah ujian Thesis di University of Hawaii, USA

August 8, 2012.

David Efendi, pegiat Rumah Baca Komunitas-Onggobayan.

Merespon dari apa yang digagas oleh Fida Afif dalam tulisannya tentang lahirnya sebuah komunitas lokal yang mempunyai ekpektasi masa depan sebagai inspirasi untuk dunia. Saya sangat apresiasi dengan tulisan tersebut. Bagi saya, sangatlah wajar impian itu muncul dari semangat lokalitas yang egaliter dan saling menghargai, saling memanusiakan sesama. Doktrin Think globally, Act locally (dan sebaliknya) adalah sebuah keniscayaan yang tak bisa kita campakkan. Lebih dahsyat lagi adalah bahwa langkah besar pasti dimulai dari langkah-langkah kecil. Kemenangan besar, begitu juga, senantiasa dibangun atas pundi-pundi kemenangan kecil. Inilah yang kemudian saya pahami sebagai revolusi semut. Perubahan yang dibawah dengan nuansa proses yang humanis, berlanjut, dan memberikan manfaat dari terbentuknya puzzle besar dalam peradaban manusia bumi.

Rumah Baca

Rumah baca mempunyai padanan makna dan praktik seperti halnya taman baca, pusat belajar masyarakat dan sejenisnya. Semua menunjukkan konotasi positive dalam masyarakat pembelajar. Beberapa orang masih juga ada yang tidak mempunyai pandangan positif tentang kehadiran rumah baca sebagai pusat belajar alternatif. Dalam puzzle peradaban yang maju “rumah baca” adalah potongan yang sangat penting ibarat dalam struktur galaksi semesta. Kebaradaan potongan sekecil apa pun akan memberikan konstribusi atas keseimbangan peredaran tata surya, atau jejaring kehidupan. Jika Rumah baca sudah mampu dibudidayakan, dikembangbiakkan dalam berbagai kegiatan yang kreatif dan partisipatoris tentu banyak improvisasi pengetahuan merekah indah di dalamnya. Hadirnya rumah baca juga akan membantu menciptakan iklim tumbuh kemabngnya penulis, pengarang, peneliti, dan juga bentuk-bentuk kreatifitas lainnya. Dari sinilah kita melangkah pasti, slowly but sure dalam irama revolusi semut Berjalan setapak demi setapak dan akan diikuti oleh semut lainnya membentuk deretan panjang dan arsitek rumah semut yang menawan.

Buku sendiri sebenarnyaImage mempunyai aspek yang berbahaya jika buku-buku itu disalahgunakan dengan kepentingan tertentu. Walau demikian buku tidak perlu ditakuti tetapi perlu dipelajari mana yang berdampak mematikan (perang) mana yang berdampak menghidupan (damai). Kita ingat kekuatan propaganda komunis melalui buku, ada buku Marxist, buku Red book of Mao juga buku-buku Hitler yang mengerikan. Wajar saja ada kaos di Amerika yang bernada humor tertulis begini, “Books have knowledge, knowledge is power, power corrupts, corruption is a crime, and crime doesn’t pay..so if you keep reading, you’ll go broke.”  Hubungan antara buku/pengetahuan dengan kekuasaan adalah sangat dekat sehingga dapat pula mengancam kebaikan bersama. Itu betul karena buku itu sendiri tidak bisa netral (free will) tetapi punya agenda maka kita juga harus pandai-pandai mengendalikan pikiran kita. Dengan berkomunitas tentu akan membuka pintu dialog/dialektika sesama pembaca.

Revolusi Semut

Evolusi peradaban adalah sebuah fakta bahwa perubahan tata kehidupan manusia tidak mungkin dapat berjalan seperti kilat. Penciptaan bumi, tata surya juga mengalami tahap yang sangat lama begitu juga dialektika penciptaan manusia tentu tidak bisa kita ingkari bahwa ada persoalan evolusi ada tahap dimana Adam berada di surga lalu beratus tahun/ribuan mengalami perjalanan panjang sampai pada generasi kita. Revolusi inggris, revolusi politik di Perancis adalah dua faktor yang mampu mempercepat perubahan tata kelola kehidupan di bumi. Era informasi sekarang kemudian berjalan mempercepat dan mempermuda cara manusia belajar. Tetapi betulkah kita sudah menjadi aktor dalam perubahan itu atau kita masih menjadi konsumen belaka. Ada revolusi kilat di luar kita, kita seringkali masih konservatif dalamcara berfikir dan berargumen. Revolusi semut kemudian kurang mendapatkan perhatian  lantaran asik melihat dunia eksotik tekhnologi di luar.

Taruhlah contoh perdebatan mengenai perpustakaan digital, kindle, e-book dengan model peprustakaan/taman baca konvensional yang memajang rak-rak buku. Banyak orang dengan PD mengatakan buku cetak tidak lagi penting dan e-book adalah solusi penghematan. Kita bandingkan berapa listrik yang juga harus dihabiskan oleh devise/tekhnologi tersebut. Kita tidak tahu pasti mana sebenarnya yang lebih ramah lingkungan apa alat-alat listrik (membaca online) atau buku cetak. Gilanya, kita tidak pernah beranjak sebagai bangsa pembelajar dan pembaca ilmu pengetahuan. Dari tahun 2003 (survey Taufik Ismail, nol baca) sampai sekarang, minat baca bangsa ini tidak beranjak naik secara signifikan. Apakah kita tega mewacanakan membaca digital? epakah kita dengan irrasional menganggap semua orang bisa membeli alat pembaca digital (laptop, nook, kindle, google nexus, etc). Jumlah orang miskin di Indonesia masih terlampau besar (30 juta-an) dan tidak sampai hati kita memamerkan tekhnologi kepada mereka. Banyak hal yang membuat kita salah mengerti akan arah perkembangan bangsa. Teman-teman yang sudah tunggang langgang menikmati kemajuan tekhnologi tidak bisa memandang sebelah mata kepada anak-anak bangsa yang masih buta huruf, buta baca, tidak familiar dengan buku cetak, dan tertinggal segala-galanya oleh yang kita anggap “kemajuan”, modernisasi, progress, peradaban, dan kata-kata lain sepadan denganya.

Rumah baca adalah kebutuhan sejarah manusia. Penentu peradaban suatu masyarakat sebagaimana telah dilalui dans sampai kini perpustakaan adalah simbul peradaban. Sampai sekarang belum ada negara maju yang menghancurkan buku cetak dan beralih ke buku digital. Artinya pekerjaan kita masih terlampau mulia untuk dinafikkan, untuk diremehkan, dan dianggap tidak bermanfaat. Bagi penggerak rumah baca, mari kita bersinergi untuk bersama-sama melanjutkan pekerjaan penting untuk bangsa yang lebih baik, lebih damai, dan lebih berkeadilan sosial. Bacaan akan dapat mengubah kita, menentukan kemanah kita akan melangkah untuk kebaikan bersama. Dengan buku yanga da di rumah-rumah kecil sudt kampung, adalah sebuah langkah besar (mulai kecil) dengan jargon sharing book, sharing knowledge, and sharing the future life. Berbagi masa depan dengan buku.

Akhirnya satu keyakinan adalah bahwa komunitas kecil yang ada dalam lingkungan kita. Betapa pun banyak kekurangannya adalah layak untuk terus diperjuangkan semampu sekuat tenaga kita. Jika kita sudah melakukan yang terbaik dengan mendayagunakan apa yang sudah kita miliki, semua perubahan akan dibantu oleh invisible hand, yakinlah dengan, sekali lagi, doktrin “Do the Best, and God will do the rest”. Artinya, lakukan yang terbaik dan Tuhan yang akan menyempurnakan pekerjaan kita.

David EfendiImage

Membaca merupakan sebuah perjalanan panjang bagi para penggila aktifitas tersebut. Membaca bukanlah proses instant yang kemudian berharap akan mendapatkan manfaat langsung dan praktis seperti orang memasak indomie rebus. Justru karena proses itulah pengendapan pengetahuan, sistem dan metodologi membaca atau mengambil manfaat dari bacaan itu semakin mapan dan berkarakter. Jadi, dalam jangka waktu panjang kita boleh berharap akan memperkuat fondasi cakrawala pengetahuan kita.

Karena itu. membaca tidak bisa dihakimi sebagai kegiatan yang sia-sia lantara kita gagal mengambil manfaat secara cepat. Itu pun tergantung bahan/jenis bacaan yang dibaca. Contohnya anda membaca buku kuning (telepon) untuk mencari informasi akurat/cepat maka anda akan mendapatkan. tetapi kalau anda membaca buku filsafat tentu anda tidak secara langsung mendapatkan pemahaman mendadak.

Dalam tulisan singkat ini kita mencoba kembali memetakan bagaimana kita memulai projek besar seputar menintai buku dan tradisi membaca. Setidaknya ada tiga elemen penting dalam kegiatan ini yang saling melengkapi. Pertama, tekad pribadi yang memang emempunyai kesadaran bahwa membaca itu penting, buku adalah sumber pengetahuan dan membaca dapat memperkaya khasanah intelektual/pemikiran kita. Jika kita sudah yakin benar bahwa buku memberikan miliaran manfaat bagi kita secara langsung dna tidak langsung tentu menggerakan jiwa raga dan segenap sumber daya untuk memulai dan melangsungkan kegiatan membaca.

So, dalam alam pikiran kita mesti harus kita doktirn sekuat mungkin tentang komitmen kita kepada ilmu pengetahuan. Doktrin yang harus juga kita legitimasi dari doktrin agama untuk memperkuat tancapan dampaknya. Seperti contohnya, bahwa ummat Islam atau manusia diperintahkan pertama kali untuk membaca sebagaimana dalam surat al Alaq yang turun pertama (bulan ramadhan) kepada nabi Muhammad pada waktu itu, ratusan tahun lalu (terhitung semenjak 22 Desember 609 M. Jadi kita bayangkan tuhan memberikan buku (kitab) kepada manusia. Pasti, kewajiban membacanya adalah melekat di dalamnya. Begitu juga kitab-kitab agama lainnya–pada prinsipnya mereka tidak menolak berkembangnya pengetahuan melalui buku-buku bacaan. Karena itu, kebaranian menempatkan tradisi membaca sebagai bagian dari manifestasi keimanan adalah sebuah keniscayaan doktrin yang perlu bagi kebangkitan ummat manusia yang akan menjadi rahmat bagi seru sekalian alam.

Kedua, buku. Siapa pun yang terbuka cakrawalah pengetahuannya maka mereka akan menghargai betapa buku menjadi sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Beberapa persoalan sering muncul bahwa keterbatasan buku menjadikan kita buta bacaan dan mengalami ketumpulan pengetahuan yang sangat memalukan dalam iklim dunia. Namun kenyataan membuktikan lain. Taruhlah contoh di Yogyakarta. Ada ratusan taman baca, rumah baca, dan sejenisnya atau perpustakaan sekolah/universitas tetapi tempat-tempat itu sangat sepi peminat/pengunjung. Jadi, ini bukan persoalan bahan bacaan tetapi persoalan minat/psikologi/ideologi yang masih jauh dari keyakinan bahwa buku adalah pengetahuan penting–bahwa membaca adalah tugas dan kewajiban agama.

Terakhir dan tidak kalah penting adalah suasana lingkungan yang kita nyaman untuk memperkuat tradisi membaca baik lingkungan sekolah, rumah, keluarga, dan masyarakat pada umumnya. Ada beberapa hal penting untuk menemukan tempat/lingkungan yang kondusif untuk memberlangsungkan tradisi membaca. Kita bisa menemukan mereka di perpustakaan dan kita bisa berkenalan, kita bisa bertanya tentang apa secara personal. Biasanya mereka mempunyai komunitas tersendiri sehingga kita akan mudah menyeleksi yang mana kita akan tertarik.

Ada beberapa model taman baca (komersial, sosial) dan perpustakaan di kantor-kantor NGO, dan lembaga sosial lainnya yang tersebar di republik ini. Jika kita bandingkan dengan nimimarket dan tempat yang paling disenangi remaja/anak-anak tentu jumlah itu masih belum seberapa. Walau demikian, keberadaan rumah baca itu sangat penting dan strategis. Mereka tentu saja mempunyai ciri khas, kelebihan masing-masing. Ada yang mempunyai karakter ideologi tertentu, inklusif, dan ada yang membuka rumah baca nya lebar-lebar kepada siapa saja dengan latar belakang berbeda-beda.Penemuan komunitas melalui tracking personal juga dapat dilakukan melalui komunitas/group yang ada di dunia maya baik facebook dan tweeter. Kita bisa selektif dan memang langkah ini perlu karena tentu kita sudah punya maksud dan tujuan dalam pikiran kita untuk bergabung dengan orang-orang baru. Sebagai mimpi, kita terus mencoba memperlopori hadinya rumah baca, sebagai rumah bersama yang dapat diakses 24 jam offline dan online adalah mimpi bersama kita dan itu tidak terlampau sulit untuk mewujudkannya.

Adapun manfaat berkomunitas adalah antara lain, 1. Komunitas pembaca dapat memotivasi kita untuk lebih banyak menimbah pengetahuan; 2. Menjadi tempat berdiskusi dan bertukar pikiran secara intensif; 3. Mampu memupuk kesadaran untuk berbagi dalam pengetahuan dan dalam persoalan lainnya; 4. Mampu menjaga keberlangsungan kebiasaan kita untuk membaca; 5. Menjadi media belajar yang efektif yang tidak dibatasi oleh aturan administrasi/birokrasi sebagaimana perpsutakaan kantor/kampus.sekolah. Banyak manfaat lainnya, jika kita mau merefleksikannya.

Selamat mencoba dan selamat memasuki dunia baru: Dunia buku yang akan menerbangkan pikiran dan mimpi-mimpi anda bebas ke angkasa tanpa batas.

Oleh Haris  Suhuh, Ketua Umum Hismag 2010-2012

Hiruk pikuk Ramadhan sudah semakin tidak terlihat lagi di akhir Ramadhan. Bahkan kesibukan umat islam saat ini terutama di Indonesia di negeri ini sudah tidak lagi terfokus pada kesibukan mengisi bulan Ramadhan. Umat islam di negeri ini lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan lain, yaitu dengan kegiatan persiapan menyambut hari raya Idul Fitri.

Bagi kebanyakan umat islam di Indonesia Idul Fitri menjadi momen penting bagi semua orang. Dimana pada hari raya Idul Fitri bagaikan menjadi “hajatan bersama” bagi seluruh umat islam. Sehingga bisa kita saksikan bagaimana fenomena belanja pakaian baru, makanan, dan segala macam yang akan digunakan pada hari raya Idul Fitri semakin menggeliat. Akhirnya yang kita saksikan, saat ini yang ramai adalah Mall-mall dan Pusat-pusat perbelanjaan bukan lagi Mushola dan Masjid. Hal ini bisa kita lihat di waktu shalat Tarawih maka akan terlihat semakin sedikit jamaahnya dibanding dengan di awal Ramadhan.

Fenomena yang terjadi ini merupakan tradisi yang terus berlangsung dari tahun ke tahun. Antusiasme menyambut hari raya Idul Fitri adalah antuasiasme paling besar bagi umat islam di negeri ini, melebihi perayaan-perayaan yang lainnya. Fenomena ini tentu menarik perhatian kita, bagaimana sebenarnya umat islam menentukan sikap dalam merayakan hari raya Idul Fitri itu?

 

Perayaan Idul Fitri, Eksploitasi dan Tradisi

Sebagaimana menjadi maklum bahwa pada momen menjelang Idul Fitri umat islam sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan hari raya. Hal ini berarti tingkat konsumsi pada hari raya Idul Fitri sangat tinggi. Tidak heran jika para pengusaha pada momen seperti ini berusaha sebisa mungkin menarik para konsumen untuk membelanjakan uang ke tempatnya. Sehingga jangan heran selama Ramadhan dan menjelang hari raya banyak sekali promosi-promosi yang dilakukan untuk menarik konsumen. Karena kita ketahui bahwa pada saat lebaran perputaran uang sangatlah tinggi. Banyak orang mulai dari sekedar para pembantu Rumah Tangga, Buruh Bangunan, Buruh Pabrik, Karyawan, dan bahkan semua kalangan membelanjakan uangnya pada saat menjelang lebaran. Sehingga yang terjadi adalah bagaimana Idul Fitri lebih terkenal dengan momen untuk berbelanja, menghabiskan uang, dan momen untuk berfoya-foya.

Disamping itu, satu hal yang perlu kita perhatikan dengan adaya momen Idul Fitri adalah dengan semakin melambung tingginya harga barang-barang kebutuhan pokok. Kondisi ini jelas bukan kondisi yang wajar dalam kenaikan harga dan bisa termasuk manipulasi harga. Sehingga seharusnya negara sebagai regulator harusnya bagaimana menstabilkan harga tetapi tidak dengan cara penetapan harga. Negara harusnya membuat operasi-operasi pasar untuk menambah stock barang yang tersedia yang dibarengi dengan proses penegakan hukum atas tindakan manipulasi harga oleh qadhi hisbah. Kita juga bisa mencermati bagaimana prilaku para pengelola transportasi ketika dalam momen Hari Raya Idul Fitri seperti ini, baik yang dikelola pemerintah maupun yang dikelola oleh swasta. Bisa kita pastikan bahwa harga tiket menjelang hari raya Idul Fitri pasti akan melonjak naik  tinggi dari harga biasanya.

Kalau Negara saat ini memang serius untuk memberikan pelayanan kepada rakyat tentu tidak akan membiarkan kondisi yang saat ini terjadi terus menerus. Apalagi membiarkannya dengan dalih bahwa naiknya harga-harga adalah sebuah mekanisme pasar bebas. Hal ini tentunya menunjukkan secara jelas kalau Negara ini adalah pengekor ideologi kapitalisme sejati.

Negara  seharusnya memberikan pelayanan bagi warga dengan menstabilkan harga, pelayanan untuk transportasi, dan pelayanan-pelayanan lainnya, bukannya malah menyusahkan warga yang ingin merayakan hari raya dengan bahagia. Hal ini hendaknya juga membuat masyarakat tahu bahwa pada momen Idul Fitri seperti ini telah terjadi eksploitasi terhadap kondisi ekonomi masyarakat.

Perayaan Idul Fitri secara tradisipun harus menjadi sorotan bagi seluruh umat islam. Seolah menjadi doktrin bahwa kalau pada Idul Fitri adanya tradisi Mudik, tradisi berkunjung ke sanak keluarga dalam rangka silaturahmi, tradisi maaf-maafan dan tradisi-tradisi lainnya yang seolah menjadi sebuah “kewajiban” yang harus dilakukan. Dan pada faktanya memang dikondisikan demikian oleh beberapa pihak. Hal ini membuat tradisi seperti ini tidak akan hilang walaupun sebetulnya tradisi seperti pulang kampung dan berkunjung ke sanak keluarga tidak ada kaitannya secara langsung dengan momen Idul Fitri. Akan tetapi sistem yang ada mengkondisikan bahwa hal itu suatu hal yang harus dilakukan. Sebenarnya melakukan kunjungan keluarga untuk mempererat tali silaturahmi itu suatu hal yang baik-baik saja. Karena memang kewajiban kaum muslimin adalah mempererat tali silaturrahmi dengan keluarga. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan keluarga. (HR. Muslim). Akan tetapi yang perlu digaris bawahi silaturrahmi tidak harus dilakukan pada hari raya, akan tetapi bisa dilakukan kapan saja. Kalaupun pada hari raya melakukan kunjungan keluarga untuk silaturrahmi maka itu sah-sah saja, akan tetapi hendaknya janganlah “dipolitisir” kepada umat islam bahwa hari raya Idul Fitri harus melakukan kunjungan keluarga untuk silaturahmi. Apalagi dipolitisir oleh beberapa kalangan untuk pengerahan masa sebuah organisasi ataupun partai politik tertentu untuk kepentingan kelompoknya.

Demikian juga dengan tradisi maaf-memaafkan yang seolah-olah menjadi tradisi “wajib” bagi umat islam untuk saling memaafkan dengan alasan idul Fitri adalah momen untuk kembali suci dari kesalahan-kesalahan. Padahal memaafkan dianjurkan segera setelah membuat kesalahan kepada orang lain bukannya menunggu saat lebaran saja, dan juga memaafkan itu harus spesifik atas kesalahan apa yang pernah dia perbuat bukan meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dilakukan selama ini. Hal ini harus menjadi pemahaman bersama umat islam bahwa memaafkan adalah sebuah transaksi mualamah antara dua pihak. Sebagiamana transaksi muamalah jual beli misalnya, maka transaksi saling memaafkan juga harus dijelaskan secara jelas objek yang dimaafkan. Hal ini merupakan standart dalam bermuamalah.

Pemahaman yang sekarang ini melanda masyarakat adalah bahwa seolah-olah dengan saling memaafkan, berjabat tangan pada hari raya maka semua kesalahan tanpa terkecuali sudah selesai antara kedua belah pihak. Padahal dalam beberapa hal, walaupun sudah ada akad saling memaafkan maka ada konsekwensi lanjutan yang masih harus diselesaikan. Sebagai contoh akad memaafkan bagi orang yang menyalahi janji dalam membayar hutang, walaupun sudah dimaafkan karena menyalahi janji dalam membayar hutang maka kewajiban membayar hutang tetap melekat pada pihak yang berhutang. Atau juga semisal ada akad memaafkan bagi orang yang secara tidak sengaja membunuh seseorang, walaupun keluarga yang terbunuh sudah memaafkan atas pembunuhan itu, maka ada konsekwensi lanjutan yang harus dipenuhi yaitu dengan membayar diyat (denda).

Hal ini seharusnya juga menjadi catatan bagi para juru dakwah untuk menjelaskan duduk persoalan berbagai tradisi yang terkadang tidak sesuai atau melenceng dengan syariat yang sudah ditetapkan oleh Sang khaliq (pencipta seluruh alam). Juru dakwah harus menyampaikan kebenaran secara jelas kepada umat tentang berbagai persoalan jyang dihadapi masyarakat bukan hanya dengan mengikuti selera tradisi masyarakat yang kadang-kadang melenceng dari syariat-Nya.

 

Standart Merayakan Hari Raya Idul Fitri

Dalam merayakan hari raya idul fitri seorang muslim hendaknya kembali menengok bagaimana Rasulullah merayakan hari raya Idul Fitri. Idul Fitri memang merupakan hari raya yang diberikan Allah kepada hambanya, sebagaimana sabda Nabi saw dari Anas bin malik yang berkata: sesungguhnya orang-orang Jahiliyyah memiliki dua hari yang digunakan untuk merayakan hari rayanya, kemudian datang Rasulullah saw ke Madinah dan bersabda: sesungguhnya telah diberikan kepadamu dua hari untuk merayakannya di hari itu dan Allah memberikan itu sebagai ganti yang lebih tinggi dan lebih baik dari padanya yaitu hari raya Idul Fitri dan Hari raya Idul Adha. (HR. Nasa’i).

Hadits di atas menjelaskan bahwa Allah telah memberikan dua hari raya bagi kaum muslim sebagai pengganti hari rayanya orang-orang jahiliyyah. Dan hari raya yang diberikan oleh Allah itu lebih tinggi dan lebih baik dari pada hari raya orang jahiliyyah. Hadits ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya umat islam hanyalah memiliki dua hari raya itu yaitu Idul Fitri dan Adha. Hendaklah umat islam tidak membuat-buat hari raya-hari raya yang lain yang dirayakan dan diperingati oleh mereka, karena sesungguhnya itu tidak lebih baik dari hari raya yang diberikan Allah.

Pada Hari raya idul Fitri ada beberapa syariat yang telah Allah perintahkan kepada kaum muslimin. Hari raya Idul Fitri diawali dengan menunaikan zakat fitrah sebelum menjalankan shalat Ied. Ini sebagaimana dilakukan kaum muslimin di masa Nabi dan Sahabat yang menunaikan zakat fitrah sebelum mereka keluar untuk menunaikan shalat Ied dan ada sebagian juga yang menunaikannya di malam Ied. Akan tetapi zakat fitrah bisa saja ditunaikan selama bulan puasa Ramadhan sampai sebelum melaksanakan shalat Ied karena diwaktu selain itu maka hanya akan bernilai shodaqah, sebagaimana sabda Nabi saw dari Ibnu Abbas yang mengatakan: “Barangsiapa yang menyerahkannya sebelum shalat (‘Ied), berarti ia adalah zakat yang diterima.  Dan barangsiapa yang menyerahkan setelah shalat (‘Ied), maka ia hanyalah sedekah biasa”.

Kemudian syariat berikutnya yang diperintahkan kepada kaum muslim adalah Shalat Idul Fitri. Bagi kaum muslimin yang hendak shalat Idul Fitri disunahkan baginya untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat menunaikan shalat Ied, hal ini sebagaimana dikatakan oleh Malik: Sesungguhnya Hisyam bin Urwah bersama Bapaknya, makan di hari raya Idul Fitri sebelum mereka melakukan shalat.Selain itu ketika keluar hendak shalat, umat islam juga diperintahkan untuk mengumandangkan takbir sampai permulaan khotbah, walaupun pada saat ini takbir sudah dimulai sejak malam Idul fitri. Disamping itu di dalam hari raya Idul Fitri para sahabat ra juga berbahagia dengan saling berpelukan dan saling mengucapkan kata-kata kepada sesama mereka: “Taqabbalallahu minna waminka” (Semoga Allah menerima amalan saya dan amalan kamu).

Setelah hari raya Idul Fitri maka pada bulan syawal kaum muslimin disunahkan untuk melakukan puasa syawal sebanyak enam hari. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw yang disampaikan oleh Abi Ayub al Anshori ra, Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang berpuasa enam hari di bulan syawal maka baginya sama dengan puasa selama satu tahun. (HR. Muslim).

Itulah standard merayakan hari raya Idul Fitri yaitu dimulai dengan menunaikan zakat fitrah sebelum shalat Ied, kemudian takbir mengagungkan nama Allah ketika keluar hendak shalat Ied, kemudian Shalat Ied dan kemudian ditutup dengan puasa 6 hari di bulan syawal. Adapun pada masa Rasulullah dan sahabat setelah melakukan ibadah shalat Ied maka kaum muslimin melaksanakan berbagai aktivitas seperti lomba memanah, lomba pacu kuda, dan sebagainya, karena memang pada masa itu problem yang dihadapi umat islam adalah untuk melakukan pembebasan negeri-negeri. Adapun problem umat islam saat ini adalah problem dakwah menyebarkan islam sebagai qiyadah fikriyah bagi umat manusia. Hendaknya umat islam menggunakan Idul Fitri untuk berdakwah dengan membangun kontak-kontak dakwah, kunjungan-kunjungan kepada keluarga untuk memperkuat tali silaturahmipun juga untuk dakwah, atau kunjungan kepada orang lain untuk membangun ukhuwah islamiyah di antara umat islam, itu semua dalam rangka menyelesaikan problem dakwah umat islam saat ini. Sehingga idul Fitri menjadi momen melanjutkan dakwah untuk kembali tegaknya islam di muka bumi ini.

Dengan demikian hendaklah kita umat islam di negeri ini menggunakan momen Idul Fitri untuk memperbaiki diri. Dan hendaknya bulan Syawal kita gunakan sebagai momen peningkatan amal perbuatan kita kepada Allah dan momen untuk dakwah dalam islam. Janganlah semangat menjalankan amalan soleh hanya datang pada bulan Ramadhan akan tetapi hendaknya menjalankan amalan-amalan itu secara kontinu. Dan jangan sampai momen Idul Fitri di bulan syawal hanya menjadi momen untuk bersenang-senang yang tidak sesuai dengan hukum Syara’. Akhirnya semoga Allah menerima amalan-amalan kita semua selama bulan Ramadhan. Taqabbalallahu minna waminkum, siyamana wa siyamakum taqabbal yaa kariim. Wallahu a’lamu bi showab

Oleh David Efendi, Presiden Partai Rakyat Membaca. Mantan Ketua Hismag 2006-2008

Mudik sudah menjadi ritual budaya setiap tahun tidak hanya dirayakan oleh ummat Islam semata namun sudah menjadi bagian integral dari denyut nadi anak bangsa dari sabang sampai merauke, dari pulau berpenghuni paling padat sampai pelosok pedalaman yang sepi. Mudik, mengalami perluasan makna menjadi kebudayaan bangsa di mana setiap individu merasakan arti mudik secara kolektif dengan dimensi pemaknaan masing-masing. Ada mudik dengan muka berseri-seri, ada juga yang mengalami kesulitan luar biasa semenjak di perbekalan, finansial, sampai berdesak-desakan di jalan. Kadang justru mengalami kenaasan yang menyedihkan. Kita bisa lihat data tahun lalu yang menurut perhitungan dari beberapa sumber bahwa pada tahun 2010 tercatat sebanyak 1.351 kasus kecelakan selama mudik lebaran, 302 orang meninggal, luka berat 405 orang dan luka ringan sebanyak 826 orang (KPAI, 2011).

Mudik sendiri memang harus disematkan makna di dalamnya bahwa ‘kembali ke fitra’ setelah sebulan digembleng dengan keras dalam ritual bulan ramadan dengan segala kesibukan dan refleksi di dalamnya. Kembali ke fitra artinya mengembalikan hati dan fikiran ke dalam ‘kesucian’ layaknya awal manusia diciptakan. Mudik, selain diartikan membersihkan diri juga menyambung silaturahmi dengan keluarga dan sesama yang mempunyai derajat istimewa dalam ajaran Islam dan agama lainnya sekalipun mempunyai makna sosial yang serupa. Mudik, bisa juga diartikan kembali mempertautkan makna yang ilahiyah dan makna duniawiyah dalam dimensi hablum minallah dan hablum minna nass. Namun ada bebarapa pemaknaan yang berbeda dari fenomena mudik di era serba liberal ini.

(3)Bagi komunitas di kampung-kampung banyak orang tidak merasakan ‘mudik’, karena mudik sejatinya adalah fenomena kelas menengah, para pekerja di kota, dan para pejabat yang ‘reses’ panjang karena bulan mudik ini. Banyak berita menginformasikan, bagaimana para pejabat publik menghabiskan jata pekerjaan/amanah untuk liburan ala mudik ini. Para politisi juga tidak kalah heboh, berbagai model kegiatan dilakukan dalam rangkah menyapa konstituen untuk persiapan pemilu atau pilkada. Inilah faktam bahwa berlebaran tidak melulu aktifitas agama, atau budaya namun juga menjadi ajang ‘pembolosan massal’ atau juga kampanye para pejabat atau calon pejabat publik. Makna mudik, kemudian dapat disimpangsiurkan kedalam berbagai kepentingan.

Jika kita mau refleksi sedikit, loyalitas anak bangsa ini ditentukan oleh minggu lebaran dimana semua orang pesta pora untuk menyenangkan diri masing-masing namun kita bisa melihat bagaimana sosok penjaga pintu air, penjaga palang kereta, polisi, seniman jalanan, tentara di perbatasan, dan para pekerja negara yang tidak bisa libur di hari H lebaran. Merekalah sejatinya para pejuang bangsa yang menyadikan bangsa dan roda ekonomi tetap jalan. Para petani di kampung-kampung juga berhenti hanya ketika sholat dan sehari saja ketika lebaran bahkan ada yang langsung kembali mengurus tanah pertanian. Karena mereka hanya berfikir lebaran bukanlah sesuatu yang perlu dilebih-lebihkan sementara pekerjaan untuk menghidupi api kompor di rumah juga kian mendesak. Berbeda dengan pejabat publik, yang bisa mempopulerkan diri di minggu ‘mudik’ dengan berbagai fasilitas negara mulai mobil dinas, THR, dan sebagainya yang ini tidak dirsakan oleh orang-orang yang tinggal desa.

Lalu bagaimana harus memaknai mudik? bagi pejabat publik yang memang dipilih baik langsung atau tidak langsung oleh rakyat maka prioritas mereka seharusnya adalah untuk kepentingan umum seperti upaya mengurus jalan dan infrastruktur agar tidak terjadi kecelakaan, kekerasan, dan bentuk-bentuk kejahatan lainnya. Janganlah pejabat berkerah putih selalu mempersalahkan operator lapangan ketika terjadi kecelakaan padahal para pejabat publik kelas atasan itu hanya santai-santai di hari lebaran sementara bawahan harus rela tidak bertemu keluarga. Ini adalah satu fenomena bentuk-bentuk pengkambinghitaman terhadap ‘bawahan’. Kesadaran naif, bahwa bawahan selalu salah dan tidak tahu apa-apa sementara atasan adalah tahu segala-galanya dan kebal atas kesalahan harus dibuang jauh. Pejabat publik, mutlak dan aboslut harus bertanggung jawab kepada publik dan karena kita negara yang mengimani tuhan maka gerak dan langkahnya harus pula dapat dipertanggungjawabkan secara seksama dihadapan sang Pencipta.

Tahun ini mudik harus lebih bermakna dan jauh dari malapetaka. Jika para pejabat publik memang amanah tentu segala daya upaya untuk membantu sesama menggapai hakikat mudik haruslah menjadi prioritas utama dari nafsu pribadi untuk merayakan mudik sementara begitu banyak kewajiban disandarkan dipundak para pejabat publik. Mudik juga harus diartikan untuk menjadikan pemerintahan lebih transparan, lebih bijak dan bajik sehingga semua pejabat berkomitmen untuk tidak lagi mengembat fasilitas negara, kekayaan dan aset negara. Mudik harus diartikan sebagai semangat bersama untuk memerangi segala kejahatan termasuk kejahatan koruptor negara. Semoga idul fitri lebih bermakna bagi para pejabat publik dan demi sebesar-besarnya kesejahteraan dan pelayanan publik.

Oleh Nadlim Ahmadi, Mahasiswa IAIN Surakarta

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik …. (Q.S. Al-Baqarah 2:267)”.

Jika belum dikenal pada masa Nabi dan sahabat beliau, maka menurut ulama masa lalu, tidak termasuk yang harus dizakati, dan dengan demikian tidak dimaksud oleh ayat diatas dengan hasil usaha kamu yang baik. Namun demikian, kini telah muncul berbagai jenis usaha manusia yang menghasilkan pemasukan, baik usahanya secara langsung tanpa keterikatan dengan orang/pihak lain seperti para dokter, konsultan, seniman, dan lain-lain, atau dengan keterikatan, baik dengan pemerintah atau swasta, seperti gaji, upah dan honorarium. Rasa keadilan, serta hikmah adanya kewajiban zakat, mengantar banyak ulama masa kini memasukkan profesi-profesi tersebut dalam pengertian “hasil usaha kamu yang baik-baik” .

Pembicaraan mengenai zakat profesi muncul karena kewajiban yang satu ini merupakan hasil ijtihad para ulama sekarang, yang tentunya tidak terdapat ketentuan yang jelas dalam al-Quran, hadis maupun dalam fiqih yang telah disususun oleh ulama-ulama terdahulu, sehingga perlu ditelusuri lebih lanjut.

Pekerjaan yang menghasilkan uang pada masa sekarang dapat digolongkan menjadi  dua macam: 1. Pekerjaan yang dilakukan sendiri tanpa tergantung kepada orang lain, berkat kecekatan tangan ataupun otak, penghasilan yang diperoleh dengan cara ini merupakan penghasilan professional, seperti, penghasilan seorang doctor, insinyur, advokat, penjahit dan lain-lain. 2. Pekerjaan seorang yang dilakukan seseorang buat pihak lain, baik pemerintah, perusahaan maupun perorangan dengan memperoleh upah, penghasilan dari pekerjaan ini seperti berupa gaji, upah ataupun honorarium.

Pengertian zakat profesi

Zakat profesi adalah zakat yang dikenakan kepada penghasilan para pekerja karena profesinya. Akan tetapi, pekerja profesi mempunyai pengertian yang luas, karena semua orang bekerja dengan kemampuannya, yang dengan kata lain mereka bekerja karena profesinya.

Di dalam kamus bahasa Indonesia, disebutkan bahwa: profesi adalah bidang pekerjaaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejujuran dan sebagainya) tertentu. Professional adalah yang bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil usaha yang halal yang dapat mendatangkan hasil (uang) yang relatif banyak dengan cara mudah, melalui suatu keahlian tertentu. Zakat Profesi (Penghasilan) adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil profesi seseorang, baik dokter, aristek, notaris, ulama/da’i, karyawan guru dan lain-lain.

Dari definisi diatas ada point-point yang perlu digaris bawahi berkaitan dengan profesi yang dimaksud, yaitu: 1. Jenis usahanya halal; 2. Menghasilkan uang relative banyak; 3. Diperoleh dengan cara yang mudah; 4. Melalui suatu keahlian tertentu. Dari kriteria tersebut dapat diuraikan jenis-jenis usaha yang berhubungan dengan profesi seseorang.

Apabila ditinjau dari bentuknya, usaha profesi tersebut bisa berupa: a. Usaha fisik, seperti pegawai. b. Usaha pikiran, seperti konsultan, desainer dan dokter. c. Usaha kedudukan, seperti komisi dan tunjangan jabatan. d. Usaha modal, seperti investasi.

Sedangkan apabila ditinjau dari hasil usahanya profesi bisa berupa: 1. Hasil yang teratur dan pasti, baik setiap bulan, minggu atau hari; seperti upah pekerja dan gaji pegawai. 2. Hasil yang tidak tetap dan tidak dapat diperkirakan secara pasti; seperti kontraktor, pengacara, royalty pengarang, dan konsultan.

Nisab / Kadar  Zakat Profesi

Agama Islam tidak mewajbkan zakat atas seluruh harta benda, sedikit atau banyak, tetapi mewajibkan zakat atas harta benda yang mencapai nisab, hal ini untuk menentukan siapa yang wajib zakat, karena zakat hanya dipungut dari orang-orang kaya.

Dan hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 219 yang artinya, “mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan, katakanlah, “yang lebih dari keperluan.

Dengan demikian, penghasilan yang mencapai nisab seperti gaji yang tinggi dan honorarium yang besar para pegawai dan karyawan, serta pembayaran-pembayaran yang besar kepada golongan profesi, wajib dikenakan zakat, sedangkan yang tidak mencapainya tidak wajib. Alasan ini dibenarkan, karena membebaskan orang-orang yang mempunyai gaji kecil dari kewajiban zakat dan membatasi kewajiban zakat hanya atas pegawai-pegawai tinggi, sehingga dengan adanya batasan ini, telah mendekati pada kesamaan dan keadilan.

Ada beberapa pendapat yang muncul mengenai nishab dan kadar zakat profesi, yaitu:

1.      Menganalogikan zakat profesi kepada hasil pertanian, baik nishab maupun kadar zakatnya. Dengan demikian nishab zakat profesi adalah 520 kg beras dan kadarnya 5 % atau 10% (tergantung kadar keletihan yang bersangkutan) dan dikeluarkan setiap menerima tidak perlu menunggu batas waktu setahun.

2.      Menganalogikan dengan zakat perdagangan atau emas. Nishabnya 85 gram emas, dan kadanya 2,5% dan dikeluarkankan setiap menerima, kemudian penghitungannya diakumulasikan atau dibayar di akhir tahun.

3.      Menganalogikan nishab zakat penghasilan dengan hasil pertanian. Nishabnya senilai 520 kg beras, sedangkan kadarnya dianalogikan dengan emas yaitu 2,5 %. Hal tersebut berdasarkan qiyas atas kemiripan (syabbah) terhadap karakteristik harta zakat yang telah ada, yakni:

a. Model memperoleh harta penghasilan (profesi) mirip dengan panen (hasil pertanian).

b. Model bentuk harta yang diterima sebagai penghasilan berupa uang. Oleh sebab itu bentuk harta ini dapat diqiyaskan dalam zakat harta (simpanan/kekayaan) berdasarkan harta zakat yang harus dibayarkan (2,5 %).

Pendapat ketiga inilah yang dinilai relevan berdasarkan pertimbangan maslahah bagi muzaki dan mustahik. Mashlahah bagi muzaki adalah apabila dianalogikan dengan pertanian, baik nishab dan kadarnya. Namun, hal ini akan memberatkan muzaki karena tarifnya adalah 5 %. Sementara itu, jika dianalogikan dengan emas, hal ini akan memberatkan mustahik karena tingginya nishab akan semakin mengurangi jumlah orang yang sampai nishab. Oleh sebab itu, pendapat ketiga adalah pendapat pertengahan yang memperhatikan mashlahah kedua belah pihak (muzaki dan mustahik). Dan nisab 2,5% ini pernah dipraktekan oleh ibnu Mas’ud, Khalifah Mu’awiyah, dan Umar bin Abdul Aziz

Landasan Syar’i  Zakat profesi

1.      Al-Quran

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Azzariyaat 51: 19)

“…Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya …” (QS. Al Hadid 57: 7)

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, …” (QS. Al Baqarah 2: 267)

Ayat diatas menunjukan lafadz atau kata yang masih umum; dari hasil usaha apa saja, “infakkanlah (zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik.” Dan dalam ilmu fiqh terdapat kaidah “Al ‘ibrotu bi Umumi lafdzi laa bi khususi sabab“, “bahwa ibroh (pengambilan makna) itu dari keumuman katanya bukan dengan kekhususan sebab.” Dan tidak ada satupun ayat atau keterangan lain yang memalingkan makna keumuman hasil usaha tadi, oleh sebab itu profesi atau penghasilan termasuk dalam kategori ayat diatas.

2.      Pendapat Sahabat dan Tabi’in tentang harta penghasilan

Para ulama salaf memberikan istilah bagi harta pendapatan rutin /gaji seseorang dengan nama “A’thoyat“, sedangkan untuk profesi adalah “Al Maal Mustafad“, sebagaimana disebutkan dalam beberapa riwayat, diantaranya Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah dan Umar bin Abdul Aziz.

Abu ‘Ubaid meriwayatkan dari Ibnu Abbas tentang seorang laki-laki yang memperoleh penghasilan “Ia mengeluarkan zakatnya pada hari ia memperolehnya.” Abu Ubaid juga meriwayatkan bahwa Umar bin Abdul Aziz memberi upah kepada pekerjanya dan mengambil zakatnya.

3.      Dalil Logika

Seorang petani yang mempunyai penghasilan dari hasil panennya, harus mengeluarkan zakat 5% atau 10% dari yang dia hasilkan setelah bersusah payah menanam dan memelihara sawahnya selama (minimal) 3 bulan lamanya. Jika dibandingkan dengan profesi seorang dokter atau yang lainnya, maka lebih besar hasil seorang yang berprofesi dibandingkan seorang petani, alangkah tidak adilnya Islam jika tidak mewajibkan zakat kepada mereka yang berprofesi.

 

Waktu Kewajiban Mengeluarkan Zakat

Menurut Yusuf Qardawi, zakat profesi dikeluarkan pada waktu diterima, hal ini berdasarkan ketentuan hukum syara’ yang berlaku umum, karena persyaratan hawl dalam seluruh harta termasuk harta penghasilan tidak berdasarkan nash yang mencapai tingkat yang shahih. Oleh karena itu, bahwa zakat profesi hukumnya wajib, terkena persyaratan hawl tetapi dikeluarkan pada waktu diterima.

Pengeluran Zakat Profesi dan gaji bersih

Zakat Profesi hanya diambil dari pendapatan bersih, hal ini dimaksudkan supaya hutang bisa terbayar dan biaya hidup terendah dari seseorang  dan yang menjadi tanggungan bisa di keluarkan karena biaya terendah kehidupan seseorang merupakan kebutuhan pokok seseorang, sedangkan zakat diwajibkan atas jumlah senisab yang sudah melebihi kebutuhan pokok.

Kesimpulan

Zakat profesi wajib dikeluarkannya zakatnya apabila mencapai batas nisab. Dan nisabnya nishab zakat penghasilan dengan hasil pertanian. Nishabnya senilai 520 kg beras, sedangkan kadarnya dianalogikan dengan emas yaitu 2,5 %. Meskipun merupakan hasil ijtihad para ulama sekarang. Namun Rasa keadilan, serta hikmah adanya kewajiban zakat, mengantar banyak ulama masa kini memasukkan profesi-profesi tersebut dalam pengertian “hasil usaha kamu yang baik-baik” . Dengan harapan zakat akan dapat membersihkan dan menyucikan harta, dan menambah rasa syukur terhadap Allah atas rizki yang telah diberikan-Nya. Wallahu a’lam bishowab

Catatan:

Judul asli tulisan adalah: “Zakat Kaum Berdasi”

Oleh : Hilyatin Millah A.


“ Jadilah Guru sekaligus Murid, menjadi Guru yang senantiasa memberikan ilmu dan menjadi murid yang selalu mencari Ilmu” (K.H . Ahmad Dahlan)

Banyak orang tua mendambakan putra-putrinya dapat memasuki pendidikan program akselerasi (percepatan) saat memasuki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Terbayang dalam pikiran orang tua rasa bangga seandainya dapat terlaksana. Lalu bagaimanakah dengan perjuangan para siswa dalam menapaki dunia akselerasi di sekolah? Dapatkah mereka menikmati dan bangga seperti kebanggan orang tuanya?

Menurut hemat penulis program akselerasi menarik dicermati dan disiasati. Tuntutan kurikulum dan nilai UN yang terus meningkat, efek psikologis dan sosial bagi siswa menjadi salah satu faktor yang harus terus dikaji. Didunia ini, kurikulum pendidikan di Indonesia menempati urutan terpadat dalam membebani para siswanya. Apalagi waktu tempuh belajar harus diperpendek dari 3 tahun menjadi 2 tahun. Untuk itu sangat bijak jika jalan alternatif pembelajaran harus disiapkan sehingga tujuan yang sudah dicanangkan dengan teliti dan jeli dapat tercapai dan para siswanya dapat menikmati hidup dan kehidupan disekolah maupun dirumah dengan senang dan tenang.

Jalan alternatif yang dapat dijadikan aliran kepadatan lalu lintas percepatan pembelajaran di sekolah antara lain dengan penambahan jam tatap muka diluar jam wajib. Hal ini dapat dilakukan pada jam pelajaran ke nol atau setelah sekolah selesai. Kalau ini disetujui oleh siswa dan siswa meminta untuk dilaksanakan karena belum merasa belum mengerti dengan materi pelajaran yang disampaikan guru, karena terlalu banyak materinya, terlalu banyak tugas dirumah yang harus diselesaikan, tidak sempat ikut bimbingan belajar diluar sekolah, maka menurut hemat penulis ini menjadi wajib ditindak lanjuti oleh pengelola sekolah. Modifikasi pembelajaran yang lain dapat berupa remidiasi untuk nilai yang masih dibawah kriteria ketentuan minimal.
Adanya beberapa siswa yang minta atas kemauannya sendiri pindah ke program reguler menjadi suatu indikasi adanya sesuatu yang kurang tepat. Kalau sudah seperti ini, siapa yang akan disalahkan? Tentunya di sini tidak akan dicari ini kesalahan siapa, tapi lebih mencari alternatif jalan tembus atau modifikasi pembelajaran seperti yang sudah tertulis diatas.
Latihan-latihan mengerjakan soal untuk tiap-tiap standar kompetensi harus lebih banyak diberlakukan oleh para siswa diluar jam wajib. Efek psikologis sosial yang akan muncul pada siswa program akselerasi kiranya perlu dipertimbangkan. Kesadaran, ketekunan, kasih sayang, kesantunan, dorongan motivasi positif yang tinggi dari para guru maupun orang tua sangat diperlukan. Kerjasama yang saling mengerti antara orang tua, siswa dan sekolah merupakan hal wajib yang harus dijunjung tinggi. Tiada kesuksesan merupakan hasil kerja sendiri, semua bersinergi tanpa ada yang merasa paling tinggi atau rendah sekali.

Akselerasi adalah suatu proses percepatan (acceleration) pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik yang memiliki kemampuan luar biasa (unggul) dalam rangka mencapai target kurikulum Nasional dengan mempertahankan mutu pendidikan sehingga mencapai hasil yang optimal. Dengan kata lain peserta didik dapat menyesuaikan cara belajarnya lebih cepat dari siswa lainnya (siswa yang mengikuti program reguler).
Beberapa intervensi pengajaran yang kemungkinan tepat dengan definisi akselerasi, sebagai berikut:
1. Siswa masuk sekolah dalam usia yang lebih mudah dari persyaratan yang telah ditentukan.
2. Siswa dipromosikan ke kelas yang lebih tinggi dari penempatan kelas yang normal pada akhir tahun pelajaran.
3. Siswa diberi materi pelajaran yang sesuai dengan prestasi yang mampu dicapainya.
4. Siswa diperkenalkan pada materi pelajaran untuk kemajuan dirinya.
5. Siswa ditempatkan dalam kelas yang lebih tinggi, khusus untuk mata pelajaran tertentu.
6. Siswa melaju pesat dengan kurikulum yang dirancang dengan mengurangi sejumlah aktivitas.
7. Siswa menggunakan waktu yang kurang dari biasanya dengan menyelesaikan studi.
8. Siswa diperkenalkan pada seorang mentor berpengalaman dan mahir.
9. Siswa mengikuti kegiatan khusus dengan instruksi tingkat mahir.
10. Siswa mengambil kursus untuk tingkat tertentu atau yang lebih tinggi.
11. Siswa mengambil kursus di sekolah menengah dan mengambil ujian untuk dapat kredit.
12. Siswa memperoleh kredit atas keberhasilannya menyelesaikan tes.
13. Siswa mengambil kursus tingkat SMA atau Perguruan Tinggi secara tertulis, baik melalui Pos atau Video.

Peran Orang Tua Terhadap Pendidikan
Anak dalam proses perkembangannya menuju kepada kedewasaan memerlukan perhatian dari kaum pendidikan, hal ini dimaksudkan untuk memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan anak agar ia tumbuh menjadi manusia yang mandiri.
Setiap perkembangan manusia bukan dimulai dari perkembangan “aku” tetapi dari “kita”, karena diasuh oleh dan bergantung kepada manusia lain. Karena adanya manusia lain itulah manusia berkembang. Sosialisasi dimulai dengan adaptasi terhadap lingkungannya yang merupakan suatu ikatan yang esensial untuk eksistensi psikisnya. Perkembangan sosial seseorang adalah perjuangannya untuk menjadi suatu identitas dengan hak-hak dan kewajibannya dalam mempertahankan dirinya.
Manusia belajar, tumbuh, dan berkembang dari pengalaman yang diperolehnya melalui kehidupan keluarga, untuk sampai pada penemuan bagaimana ia menempatkan dirinya kedalam keseluruhan kehidupan. Pendidikan anak sangat penting dimulai dari lingkungan keluarga karena dari rumahlah ditumbuhkan rasa kepedulian, kesadaran, dan pengertian dasar tentan totalitas lingkungan. Dari sinilah orang tua harus belajar memahami setiap pertumbuhan anak agar sesuai dengan kebutuhan si anak.

Perlu diingat bahwa setiap anak lahir dengan bakat, potensi, kemampuan, talenta serta sikap dan sifat yang berbeda. Karenanya potensi anak yang sangat beragam dalam berbagai bidang dengan berbagai taraf dan jenis intelegensinya, yang dibesarkan pula dalam berbagai kondisi ekonomi, social, psikologis, budaya, serta alam biologis yang berbeda, harus diupayakan dipenuhi kebutuhannya oleh keluarga agar bimbingannya terjadi sesuai dengan taraf perkembangan anak. Wallahu A’lam Bisshowab.

(sumber: suara hismag Edisi Idul Adhah 2010)

petanggalan

Juli 2017
S S R K J S M
« Agu    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31